Home » » Isti’azah (Ta’awwuz)

Isti’azah (Ta’awwuz)

Written By Fihrin on Friday, March 8, 2013 | 10:53 AM



Sebelum memulai penafsiran Ta'awuz, Al-Imam Ibnu Katsir terlebih dahulu memaparkan beberapa keterangan dari Al-Qur'an dan Al-Hadis serta beberapa pendapat ulama berkaitan dengan Isti'azah (Ta'awuz) sebagaimana berikut ini: 

Allah Swt. berfirman :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ  (١٩٩ )   وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  (٢٠٠ )
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh. Dan jika kamu ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A’raf: 199-200)

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ, وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ, وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ (المؤمنون : ٩٦-٩٨ )
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan ( gambarkan ). Dan Katakanlah, “ Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku juga berlindung kepada Engkau , ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku,” (Al-Mu’minun: 96-98)

دْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
واما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه هو السميع العليم

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permuduhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak di anugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fussilat: 34-36)

Setelah ketiga ayat di atas, tidak ada ayat keempat yang semakna dengannya, yaitu Allah Swt. Memerintahkan agar bersikap diplomasi terhadap musuh dari kalangan sesama manusia dan berbuat baik kepadanya dengan tujuan agar ia sadar dan kembali kepada watak aslinya yang baik, yakni kembali bersahabat dan rukun. Allah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada-Nya dalam menghadapi musuh dari kalangan setan, sebagai suatu keharusan, karena itu tidak boleh bersikap diplomasi dan tidak boleh pula bersikap baik kepadanya. Setan selamanya hanya menginginkan kebinasaan manusia karena sengitnya permusuhan antara dia dan nenek moyang umat manusia, yaitu Adam di masa lalu, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya :

يَٰبَنِى ءَادَمَ لا يفتننكم الشيطٰن كما أخرج أبويكم من الجنة (الأعراف: ٢٧ )
Hai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. (Al-A’raf : 27)

إن الشيطن لكم عدو فاتخذوه عدوا، إنما يدعوا حزبه ليكونوا من أصحٰب السعير (فاطر: ٦ )
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fatir: 6)

أفتتخذونه و ذريته أولياء من دونى و هم لكم عدو بئس للظلمين بدلا (الكهف : ٥٠ )
Patutkah kalian mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedangkan mereka adalah musuh kalian, amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Al-Kahfi : 50)

Sesungguhnya setan (iblis) pernah bersumpah kepada nenek moyang kita semua, yaitu Adam as., bahwa dia benar-benar termasuk orang-orang yang menasihatinya. Tetapi ternyata setan berdusta dalam sumpahnya itu. Selanjutnya bagaimanakah perlakuan setan terhadap kita (sebagai anak cucu Adam as.)?. Hal ini diungkapkan oleh firman Allah, menyitir perkataan setan:
فبعزتك لأغوينهم أجمعين ، إلا عبادك منهم المخلصون (ص : ٨٢-٨٣ )
Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka. (Sad: 82-83)

فإذا قرأت القران فاستعذ بالله من الشيطٰن الرجيم ، إنه ليس له سلطن على الذين ءامنوا و على ربهم يتوكلون (النحل: ٩٨-٩٩ )

Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An-Nahl: 98-99)

Segolongan ulama ahli qurra dan yang lainnya mengatakan bahwa bacaan ta’awwuz dilakukan sesudah membaca Al-Qur’an. Mereka mengatakan demikian berdasarkan makna lahiriyah ayat, untuk menolak rasa ‘ujub sesudah melakukan ibadah. Orang yang berpendapat demikian antara lain ialah Hamzah, berdasarkan apa yang telah ia nukil dari Ibnu Falufa dan Abu Hatim As-Sijistani. Hal ini diriwayatkan oleh Abul Qasim Yusuf ibnu Ali ibnu Junadah Al-Huzali Al-Magribi di dalam Kitabul ‘Ibadah Al-Kamil. Ia meriwatkan pula melalui Abu Hurairah, tetapi riwayat ini berpredikat garib, lalu dinukil oleh Muhammad ibnu Umar Ar-Razi di dalam kitab Tafsirnya dari Ibnu Sirin dalam sebuah riwayatnya ia mengatakan bahwa pendapat ini adalah perkataan Ibrahim An-Nakha’i dan Daud ibnu Ali Al-Asbahani Az-Zahiri.   
   
Al-Qurtubi meriwayatkan dari Abu Bakar ibnu Arabi, dari sejumlah ulama, dari Imam Malik, bahwa si pembaca mengucapkan ta’awwuz sesudah surat Al-Fatihah. Akan tetapi, Ibnul ‘Arabi sendiri menilainya garib (aneh).
            Menurut pendapat ketiga, ta’awwuz dibaca pada permulaan bacaan Al-Qur’an dan pungkasannya (penutupnya), karena menggabungkan kedua dalil. Demikianlah yang dinukil oleh Ar-Razi.
            Akan tetapi, menurut pendapat yang terkenal dan dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bacaan ta’awwuz hanya dilakukan sebelum bacaan Al-Qur’an, untuk menolak godaan yang mengganggu bacaan. Menurut mereka, makna ayat berikut: Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (An-Nahl: 98) maksudnya ialah “apabila kamu hendak membaca Al-Qur’an”. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman Allah Swt. Lainya, yaitu:

إذا قمتم إلى الصلوة فاغسلو وجوهكم و أيديكم (المائدة: ٦ )
Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tangan kalian. (Al-Ma’idah: 6)

Makna yang dimaksud ialah “bilamana kamu hendak mengerjakan shalat”. Pengertian ini berdasarkan hadis yang yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. Bila mengerjakan shalat di sebagian malam harinya membuka salatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan:

سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ، وَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَ تَعَالَى جَدُّكَ، وَ لَا إلٰهَ غَيْرُكَ – ثُمَّ يَقُوْلُ : لَا إلٰهَ إلَّا اللهُ – ثَلَاثًا ثُمَّ يَقُوْلُ – أعُوْذُ بِالله السَّمِيْع الْعَلِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَ نَخْفِهِ وَ نَفْثِهِ .

Maha suci Engakau, ya Allah, denagan memuji kepada Enkau, Mahasuci Asma-Mu Mahatinggi keagungan-Mu, tiada Tuhan selain Engkau. Kemudian beliau mengucapkan, “tidak ada Tuhan selain Allah,” sebanyak tiga kali, lalu membaca do’a berikut: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, yaitu dari kesempitan, ketakaburan, dan embusan rayuannya.”

Hadis ini diriwayatkan dalam empat kitab Sunan melalui riwayat Ja’far ibnu Sulaiman, dari Ali ibnul Ali Ar-Rifa’I, Imam Turmuzi mengatakan istilah al-hamz dengan makna ‘cekikan’ atau kesempitan’, an-nafakh dengan ‘takabur’, dan an-nafas dengan makna ‘embusan rayuan yang mendorong seseorang mengeluarkan syairnya’.
Imam Ahamad mengatakan Ishaq ibnu Yusuf telah menceritakan kepada kami, bahwa Syarik telah menceritakan kepada kami, dari Ya’la ibnu Ata, dari seorang lelaki yang menceritakan kepadanya bahwa dia pernah mendengar Abu Umamah Al-Bahili menceritakan:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا قام إلى الصلاة كبر ثلاثا، ثم قال (لا إله إلا الله ) ثلاث مرات، (و سبحان الله و بحمده ) ثلاث مرات، ثم قال : ( أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، من همزه و نفخه و نفثه  )
Apabila Rasulullah Saw. Hendak mengerjakan shalatnya, terlebih dahulu membaca takbir tiga kali, dan “Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya” sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, yaitu dari godaan rayuan dan bisikannya.”

Al-Hafiz Abu Ya’la Ahmad ibnu Ali ibnul Musanna Al-Mausuli mengatakan di dalam kitab Musnadnya bahwa Abdullah ibnu Umar ibnu Aban AlKufi menceritakan kepada kami, bahwa Ali ibnu Hisyam ibnul Barid menceritakan kepada kami, dari Yazid ibnu Ziad, dari Abdul malik ibnu Umair, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Ubay ibnu Ka’ab ra. Yang menceritakan :

عن أبى بن كعب، قال : تلاحى رجلان عند النبى صلى الله عليه و سلم، فتمزع أنف أحدهما غضبا، فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( إنى لأعلم شيئا لو قاله ذهب عنه مايجد : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم )
Ada dua orang laki-laki bertengkar di hadapan Nabi Saw., lalu salah seorang darinya mencabik-cabik hidung karena marah sekali. Maka Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui sesuatu, seamdainya dia mengucapkannya, niscaya akan lenyaplah rasa emosinya itu, yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.

Masih banyak hadis yang behubungan dengan masalah isti’azah ini, yang tidak sempat dimuat dalam tulisan ini. Bagi yang ingin keterangan lebih lanjut, dipersilahkan merujuk kepada kitab-kitab “Zikir dan Fadhailul ‘Amal”.

Jumhur ulama mengatakan bahwa membaca ta’awwuz hukumnya sunat, bukan merupakan suatu keharusan yang mengakibatkan dosa bagi orang yang meninggalkannya. Ar-Razi meriwayatkan dari Ata’ ibnu Abu Rabah yang mengatakan wajib membaca ta’awuz dalam shalat dan di luar shalat, yaitu bila hendak membaca Al-Qur’an.

Ibnu Sirin mengatakan, “Apabila seorang telah membaca ta’awuz sekali saja dalam seumur hidupnya, maka hal itu sudah cukup untuk menggugurkan kewajibannya membaca ta’awuz.”
Ar-Razi mengemukakan hujahnya kaepada Ata’ dengan makna lahiriyah ayat yang menyatakan, “Fasta’iz (maka mintalah perlindungan kepada Allah).” Kalimat ini adalah kalimat perintah yang lahiriyahnya menunjukkan makna wajib, juga berdasarkan pengamalan yang dilakukan oleh Nabi Saw. Secara terus menerus. Dengan membaca ta’awuz, maka kejahatan setan dapat ditolak. Suatu hal yang merupakan kesempurnaan bagi hal yang wajib, maka hukumnya wajib pula. Karena membaca ta’awuz merupakan hal yang lebih menunjukkan kehati-hatian. Sedangkan sikap hati-hati itu merupakan suatu hal yang dapat hukum wajib.

Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca ta’awuz pada awal mulanya diwajibkan kepada Rasulullah Saw., tetapi tidak kepada umatnya. Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia tidak membaca ta’awuz dalam shalat fardunya, tetapi ta’awuz dibaca bila mengerjakan shalat sunat Ramadhan pada malam pertama.
Imam Syafi’i di dalam kitab Al-Imla mengatakan bahwa bacaan ta’awuz dinyaringkan, tetapi jika dipelankan tidak mengapa. Di dalam Kitab Al-Umm disebutkan boleh memilih, karena Ibnu Umar membacanya dengan pelan, sedangkan Abu Hurairah membacanya dengan suara nyaring. Tetapi bacaan ta’awuz selain pada rakaat pertama masih diperselisihkan di kalangan mazhab Syafi’i, apakah disunatkan atau tidak. Ada dua pendapat, tetapi yang kuat mengatakan tidak disunatkan.
Apabila orang yang membacata’awuz mengucapkan, “A’uzu billahi minasy syaithanir rajim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk),” maka kalimat tersebut dinilai cukup menurut Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.

Sebagian dari kalangan ulama ada yang menambahkan As-Sami’ul ‘Alim (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), sedangkan yang lainya bahkan menambahkan seperti berikut: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” menurut As-Sauri dan Al-Auza’i.

Membaca ta’awuz dalam shalat hanya dilakukan untuk membaca Al-Qur’an, menurut pendapat Abu Hanifah dan Muhammad. Sedangkan Abu Yusuf mengatakan bahwa ta’awuz dibaca untuk menghadapi shalat itu sendiri. Berdasarkan pengertian ini, berarti makmum membaca ta’awuz sekalipun imam tidak membacanya. Dalam shalat Id (hari raya), ta’awuz dibaca sesudah takbiratul ihram dan sebelum takbir shalat hari raya. Sedangkan menurut jumhur ulama sesudah takbir Id dan sebelum bacaan Al-Fatihah dimulai.
Termasuk faedah membaca ta’awuz adalah untuk membersihkan apa yang telah dilakukan oleh mulut, seperti perkataan yang tak berguna dan kata-kata yang jorok, untuk membersihkannya sebelum membaca Kalamullah.

Bacaan ta’awuz dimaksudkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dan mengakui kekuasaan-Nya, sedangkan bagi hamba yang bersangkutan merupakan pengakuan atas kelemahan dan ketidak mampuannya dalam menghadapi musuh bebuyutan yang tidak kelihatan. Tiada seorang pun yang dapat menyangkal dan menolaknya kecuali Allah yang telah menciptakannya. Setan tidak boleh diajak bersikap baik dan tidak boleh berbaik hati kepadanya. Lain halnya musuh dari jenis manusia (kita boleh bersikap seperti itu), sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa ayat Al-Qur’an dalam tiga ayat tersebut di atas.
Dan Allah Swt. Telah berfirman:

إن عبادى ليس لك عليهم سلطٰن، و كفى بربك و كيلا (الإسراء : ٦٥ )
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplahTuhanmu sebagai penjaga (Al-Isra:65)

Malaikat pernah turun untuk memerangi musuh yang berupa manusia. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang kelihatan (yakni manusia), maka ia mati syahid. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan terlaknat. Barang siapa yang dikalahkan oleh musuh yang tampak, maka ia adalah orang-orang yang diperbudak. Barang siapa yang dikalahkan oleh musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang terfitnah atau berdosa. Mengingat setan dapat melihat manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka manusia dianjurkan agar memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Melihat setan, sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya.


Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

Share this article :


 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. fihrin's Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger